Masa Depan Gambut Rawa Tripa

 Masa Depan Gambut Rawa Tripa

Lahan Gambut Rawa Tripa. FOTO: HENDRI/RAKYAT ACEH.

Kawasan Gambut Rawa Tripa menjadi habitat bagi 91 jenis flora dan fauna, 14 jenis di antaranya spesies endemik dan dilindungi, terutama satwa orangutan. Kawasan ini juga menjadi habitat 30 spesies makrozoobenthos dengan indeks keragaman kategori sedang.

POJOK GAMBUT- Sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjaga dan melindungi kawasan gambut Rawa Tripa, yang semakin mengkhawatirkan. Jika tidak, kawasan gambut Rawa Tripa yang menyimpan nilai ekologi yang sangat tinggi itu, hanya tinggal nama.

Bahkan, dengan kondisi pengelolaan lingkungan seperti saat ini, diperkirakan 30 tahun ke depan, lahan gambut di Rawa Tripa akan berada di bawah permukaan laut. Kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya intrusi (perembesan) air laut. Hal ini akan mengakibatkan salinitas (tingkat keasinan) tanah akan meningkat, sehingga berdampak pada penurunan kualitas sumberdaya lahan untuk pertanian.

Dampak lainnya adalah penduduk yang tinggal di sekitar kawasan gambut akan kehilangan sumber air tawar.

Instrusi merupakan kondisi perembesan air laut ke dalam lapisan tanah sehingga terjadi percampuran air laut dengan air tanah. Sedangkan Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Tentunya, kedua kondisi tersebut mempengaruhi kualitas rawa gambut di masa yang akan datang.

Salah satu penyebab kerusakan kawasan gambut Rawa Tripa dikarenakan pembukaan kebun kelapa sawit yang tidak terkendali dan mengabaikan kondisi lingkungan, serta berbagai persoalan lainnya.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Dr. Monalisa, pendiri Jaringan Masyarakat Gambut Aceh (JMGA), saat memberikan materi pada Sekolah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), pada 4 Oktober 2019 silam.

Berdasarkan Laporan Kegiatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), Maret 2017, yang dipaparkan pada Workshop Nasional KLHS Kawasan Rawa Gambut Tripa, Rabu 1 Maret 2017, di Jakarta, kawasan gambut Rawa Tripa memiliki luasa mencapai 60.657,29 hektar. Berada dalam wilayah Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat Daya dengan keragaman hayati dan bernilai ekologi tinggi.

Masih menurut laporan tersebut, dari beberapa penelitian yang dilakukan, memberikan gambaran bahwa kawasan ini menjadi habitat bagi 91 jenis flora dan fauna, 14 jenis di antaranya spesies endemik dan dilindungi, terutama satwa orangutan. Kawasan ini juga menjadi habitat 30 spesies makrozoobenthos dengan indeks keragaman kategori sedang.

Dengan segala kekayaan yang tersimpan di kawasan gambut Rawa Tripa, sudah selayaknya dilakukan upaya pencegahan kerusakan, seperti kebakaran lahan yang sering terjadi di kawasan itu. Terlebih di musim kemarau seperti saat ini. Adapun beberapa Langkah preventif (pencegahan) dapat dilakukan, seperti pembuatan sekat kanal (kanal bloking), sumur bor, hujan buatan, paludikultur dan sebagainya.

Paludikultur merupakan pemanfaatan lahan gambut yang dibasahi kembali secara produktif. Dilakukan dengan cara menyimpan karbon stok dalam jangka waktu yang panjang, dengan mempertahankan tinggi muka air tanah sepanjang tahun.

Dengan penyekatan kanal, daya simpan (retensi) air lahan gambut dapat meningkat dan dengan demikian mencegah penurunan permukaan air di lahan gambut. Dalam keadaan basah, kebakaran lahan gambut dapat diminimalisir. Sedangkan Sumur bor merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pembasahan gambut (rewetting), yang juga dilakukan sebagai upaya pencegahan kebakaran.

Terdapat beberapa ciri lahan gambut yang masih dalam kondisi masih baik, antara lain kubah gambut masih berfungsi sebagai resapan air dengan luasan > 30%. Masih tertutup tanaman keras alami, kedalaman muka air tanah di musim kemarau dibawah 40 cm. Bersifat hidrofilik dengan pH ≥ 4, serta nilai redoks potensial < 200 (mV).

Gambut sendiri diklasifikasi menjadi tiga jenis berdasarkan bahan induknya (Buckman dan Brady, 1982). Pertama gambut endapan; biasanya tertimbun di dalam air yang relatif dalam. Umumnya terdapat jelas di profil bagian bawah. Meski demikian, kadang-kadang tercampur dengan tipe gambut lainnya jika lebih dekat dengan permukaan.

Gambut ini berciri kompak dan kenyal serta bewarna hijau tua jika masih dalam keadaan aslinya. Jika dalam keadaan kering, jenis gambut ini menyerap air sangat lambat dan bertahan. Kondisi fisiknya sangat keras dan bergumpal. Gambut ini tidak terlalu disukai, karena sifat fisiknya yang tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman.

Kedua, gambut berserat; mempunyai kemampuan mengikat air tinggi dan dapat menunjukkan berbagai derajat dekomposisi. Gambut berserat kemungkinan terdapat dipermukaan timbunan bahan organik yang belum terdekomposisi, sebagian atau seluruhnya terdapat dalam profil bawah. Biasanya terlihat di atas endapan.

Ketiga, gambut kayuan; yang berasal dari pepohonan dan tanaman semak. Di Indonesia, sebagian besar lahan gambut tergolong ke dalam jenis gambut kayuan.

Jenis-jenis gambut juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kesuburannya. Gambut eutrofik adalah gambut yang subur dan kaya akan mineral dan unsur hara lainnya. Gambut mesotrofik adalah gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan unsur hara sedang.

Gambut oligotrofik adalah gambut yang tidak subur, karena miskin mineral dan unsur hara. Sebagian besar lahan gambut di Indonesia termasuk ke dalam gambut mesotrofik dan oligotrofik.

Lahan gambut di Indonesia terdapat di dataran rendah dan dataran tinggi. Pada umumnya, lahan rawa gambut di dataran rendah terdapat di kawasan rawa pasang surut dan rawa pelembahan. Terletak di antara dua sungai besar pada fisiografi/landform rawa belakang sungai (backswamp), rawa belakang pantai (swalle), dataran pelembahan (closed basin), dan dataran pantai (coastal plain).

Lahan rawa gambut di dataran tinggi umumnya terdapat di cekungan (closed basin). Sebagian besar lahan rawa gambut terdapat di dataran rendah dan hanya sebagian kecil yang terdapat di dataran tinggi. Bentukan-bentukan landform yang relatif sama atau mirip proses pembentukan dan dinamikanya disebut satuan fisiografi.

Dengan mengetahui kondisi dan potensi kawasan Gambut Rawa Tripa, serta jenis-jenis gambut yang ada di Indonesia, sudah sepatutnya kita memanfaatkan potensi lahan gambut di sekitar kita. Menjaganya demi keberlangsungan ekosistem gambut dan kehidupan. []

———————————————————————————————————————————————

Penulis: Mellyan

Editor: Junaidi Mulieng

Related post

%d bloggers like this: